Grafiknews.com, Bandar Lampung- Proyek Pembangunan Rumah sakit Pendidikan Tinggi Negeri (RSPTN) Universitas Lampung dipastikan melalui proses tender yang sesuai standarisasi dan melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi Republika Indonesia (KPK-RI)
Wakil Rektor Bidang Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama dan TIK Unila Dr. Ayi Ahadiat mengatakan, pemenang tender proyek RSPTN diputuskan berdasarkan berdasar pleno yang dipimpin oleh Sekjen Dikbud, dan melibatkan Irjen KPK, dewan pengawas Unila , Dirjen Dikti, dan direktur Sumberdaya.
Ia juga menyatakan,Rektor Unila Prof.Lusmeilia Afriani,tidak terlibat langsung dalam proses tender, karena Unila dalam hal ini hanya sebagai penerima proyek saja.
” ibu rektor tidak terlibat Pleno, Jadi Ibu Rektor bukan pemain tinggal , kita(unila Red.) hanya ketiban rezekinya . Jadi selain unila ITS juga dapat tapi bukan RSPTN), ”
Ujarnya pada saat Sikaturahmi dan ekspose Tridarma Perguruan Tinggi Unila, Minggu sore, 17/3/2024.
Ia juga menegaskan, Rumah Sakit Pendidikan Tinggi Negeri (RSPTN) unila, yang menjadi fokus utama sebagai RSP riset pertama di Pulau Sumatra untuk saat ini.
Melalui proyek Higher Education for Technology and Innovation (HETI) didanai pinjaman dari Asia Development Bank (ADB), RSPTN Unila ditargetkan akan diresmikan pada tahun 2026, atau akhir 2025.
Proyek ini mencakup pembangunan RSPTN serta Integrated Research Center (IRC), dan telah memasuki tahap konstruksi dan pengembangan kapasitas sejak diluncurkan pada 11 Februari 2022, dengan rencana penyelesaian pada tahun 2026.
Manajer Unit Implementasi Proyek (PIU) HETI Unila, Prof. Satria Bangsawan, menyatakan,
menambahkan, pembangunan RSPTN dan IRC sudah dimulai sejak tahun 2024 dan saat ini fokus pada persiapan peralatan dan SDM yang akan mengelola rumah sakit tersebut.
RSPTN Unila akan dibangun dengan konsep ramah lingkungan, berbasis IT, efisiensi energi, tahan gempa, dan responsif terhadap gender serta disabilitasdisabilitas dan masyarakat pada umumnya.

