Mahasiswa KKN Unila Resmikan Rumah Maggot di Rajabasa Nunyai, Solusi Pengelolaan Sampah Organik Bernilai Ekonomis

oleh

Grafiknews.com, Bandar Lampung — Permasalahan sampah organik rumah tangga yang belum terkelola secara optimal mendorong lahirnya solusi berbasis pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung (Unila) menginisiasi program budidaya maggot di Kelurahan Rajabasa Nunyai, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung, sebagai alternatif pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomis.

Kegiatan sosialisasi dan praktik budidaya maggot dilaksanakan pada Rabu (4/2/2026) di RT 07 Lingkungan 02 Kelurahan Rajabasa Nunyai. Program ini dirangkaikan dengan peresmian Rumah Maggot sebagai pusat pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Rajabasa Rachmatsyah, Lurah Rajabasa Nunyai Nurmala Sari, kepala lingkungan, ketua RT, Linmas, serta PKK Lingkungan 02. Hadir pula Dosen Pembimbing Lapangan Rajabasa Nunyai, dr. Rasmi Zakiah Oktarlina, M.Farm., serta pemateri sosialisasi Amir Syarifudin, S.Pd.

Dalam kegiatan tersebut, warga mendapatkan pemaparan materi mengenai pengelolaan sampah organik dan mekanisme budidaya maggot. Peserta juga menerima modul panduan sebagai bahan pembelajaran lanjutan. Usai peresmian Rumah Maggot, masyarakat diajak melihat langsung proses budidaya dan cara kerja maggot dalam mengurai sampah organik.

Ketua KKN Unila Kelurahan Rajabasa Nunyai 2, Harun Al Rasyid, mengatakan program ini merupakan komitmen mahasiswa untuk menghadirkan solusi nyata atas persoalan lingkungan di masyarakat.

“Kami ingin membantu warga mengelola sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan. Budidaya maggot adalah solusi sederhana yang bisa diterapkan oleh siapa saja,” ujarnya.

Program pendampingan ini dilaksanakan selama masa KKN Periode I Tahun 2026 yang berlangsung selama satu bulan. Tim KKN secara berkala memantau perkembangan budidaya sekaligus memberikan pendampingan agar program berjalan optimal dan berkelanjutan.

Menurut Harun, Rumah Maggot merupakan hasil dedikasi tim yang telah dipersiapkan sejak jauh hari. Ia berharap fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara nyata oleh masyarakat sebagai solusi pengelolaan sampah organik sekaligus membuka peluang ekonomi tambahan.

Camat Rajabasa, Rachmatsyah, menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKN. Ia menilai sampah organik memiliki potensi besar apabila dikelola dengan tepat.

“Melalui budidaya maggot, sampah organik dapat diurai secara alami dan cepat sehingga mampu mengurangi volume limbah rumah tangga serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih,” ujarnya.

Ia menambahkan, budidaya maggot berpeluang menjadi usaha menjanjikan karena tidak membutuhkan lahan luas dan memanfaatkan sampah organik sebagai pakan utama.

“Budidaya maggot ramah lingkungan dan biaya produksinya rendah. Yang dibutuhkan hanya kemauan dan konsistensi,” kata Rachmatsyah.

Pemerintah kecamatan berharap program ini tetap berjalan meskipun masa KKN telah berakhir. Jika dikelola secara konsisten, budidaya maggot dinilai mampu menekan volume sampah organik sekaligus membuka peluang usaha kecil berbasis pengelolaan sampah di Kelurahan Rajabasa Nunyai.

Program diawali dengan sosialisasi pengelolaan sampah organik, pengenalan budidaya maggot, hingga praktik langsung pembuatan media dan perawatan. Warga tampak antusias mengikuti setiap tahapan serta aktif berdiskusi mengenai pemilahan sampah, proses penguraian, hingga pemanfaatan hasil budidaya.

Melalui peresmian Rumah Maggot ini, Tim KKN berharap dapat tercipta ekosistem lingkungan yang mandiri di Kelurahan Rajabasa Nunyai, sehingga persoalan sampah organik dapat diselesaikan dari sumbernya dan memberi nilai tambah ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *