FH Unila Gelar Kompetisi Peradilan Semu Nasional Bertema Anti Perdagangan Manusia

oleh

Grafiknews.com, Bandar Lampung — Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Pusat Studi Bantuan Hukum (PSBH) Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH Unila) sukses menyelenggarakan National Moot Court Competition (NMCC) Anti Human Trafficking pada Jumat, 19 Oktober 2025, bertempat di Gedung Lamban Kuning, Bandar Lampung.
Kompetisi nasional ini diikuti oleh 12 universitas dari berbagai daerah di Indonesia dan mengangkat isu perdagangan manusia sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang mencederai martabat serta hak asasi manusia yang paling mendasar.
Ajang bergengsi ini memperebutkan Piala Prof. Hilman Hadikusuma, sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh hukum adat Indonesia yang telah memberikan kontribusi besar dalam perkembangan ilmu hukum di tanah air.
Dalam sambutannya, Raja Adat Lampung sekaligus mantan Kapolda Lampung, Irjen Pol (Purn) Dr. Ike Edwin, S.I.K., S.H., M.H., menekankan pentingnya supremasi hukum sebagai fondasi utama kesejahteraan bangsa.
“Tidak ada kesejahteraan tanpa hukum. Indonesia tidak akan sejahtera tanpa hukum, dan keadilan tidak mungkin tercapai tanpa hukum,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Unila, Prof. Dr. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa Unila memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk mencetak generasi hukum yang berintegritas dan humanis.
“Fakultas Hukum harus melahirkan praktisi hukum yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap isu-isu kemanusiaan yang terjadi di masyarakat,” ucapnya.
Apresiasi juga disampaikan oleh Wakil Gubernur Lampung, dr. Jihan Nurlela, M.M., yang memandang kegiatan ini sebagai bentuk kreativitas dan kemandirian akademik yang layak menjadi contoh.
“Kami mengapresiasi Universitas Lampung, terutama Fakultas Hukum, yang mampu menghadirkan kegiatan murni inisiatif kampus seperti ini. Semoga ke depan FH Unila bisa memberikan akses lebih luas bagi universitas lain di Lampung untuk ikut serta,” tuturnya.
Melalui kompetisi ini, diharapkan akan lahir calon-calon penegak hukum muda yang tidak hanya andal dalam argumentasi hukum, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah tantangan hukum modern, semangat anti human trafficking yang diusung UKMF PSBH Unila menjadi pengingat bahwa penegakan hukum harus selalu berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.
Jika kamu ingin versi lebih formal atau versi untuk keperluan siaran pers/media sosial, saya bisa bantu sesuaikan.
<span;>Anda bilang:
Rapihkan dan beri judul yang bagus Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM U) Universitas Lampung (Unila) sukses menutup rangkaian Unila Festival dan Dies Natalis ke-60 Unila melalui gelaran Diwangkara Festival, yang berlangsung pada Minggu, 19 Oktober 2025, di Lapangan Sepak Bola Unila. Acara penutupan dihadiri Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., I.P.M., ASEAN Eng., selaku Rektor Unila, panitia pelaksana, serta ribuan mahasiswa dan masyarakat umum yang memadati area kampus. Diwangkara Festival menjadi puncak dari rangkaian perayaan Dies Natalis ke-60 Unila, menghadirkan sejumlah musisi ternama seperti Hindia, Bernadya, dan Feast. Ribuan penonton turut memeriahkan acara yang berlangsung tertib dan penuh antusiasme tersebut. Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., I.P.M., ASEAN Eng. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan mahasiswa yang telah sukses menyelenggarakan kegiatan ini. “Kegiatan ini adalah bukti nyata kebersamaan dan kemampuan mahasiswa Universitas Lampung. Tidak hanya sekadar ilmu di bangku kuliah, tetapi juga kepemimpinan, tanggung jawab, dan kerja sama yang tercermin dalam penyelenggaraan acara sebesar ini,” ujar Prof. Lusmeilia. Kegiatan ini menjadi simbol dari semangat kebersamaan sivitas akademika Unila dalam merayakan enam dekade perjalanan kampus hijau tersebut. Dalam penutupannya, Lusmeilia juga berpesan kepada seluruh mahasiswa untuk tetap menjaga ketertiban dan nama baik universitas selama kegiatan berlangsung. Selain menjadi ajang hiburan, Diwangkara Festival turut menunjukkan semangat kreativitas mahasiswa Unila dalam menyatukan seni, budaya, dan semangat akademik dalam satu wadah yang inklusif. Rangkaian Unila Festival dan Dies Natalis ke-60 ini diharapkan dapat memperkuat rasa kebersamaan, memperluas ruang ekspresi mahasiswa, serta menjadi refleksi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus membawa Unila menuju masa depan yang lebih gemilang.
<span;>ChatGPT bilang:
Berikut versi yang telah dirapikan dengan struktur yang rapi dan judul yang kuat:
<span;>Diwangkara Festival Jadi Puncak Meriah Dies Natalis ke-60 Unila
Bandar Lampung — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM U) Universitas Lampung (Unila) sukses menutup rangkaian Unila Festival dan Dies Natalis ke-60 melalui gelaran Diwangkara Festival, yang berlangsung meriah pada Minggu, 19 Oktober 2025, di Lapangan Sepak Bola Unila.
Acara penutupan ini dihadiri langsung oleh Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., I.P.M., ASEAN Eng., jajaran panitia pelaksana, serta ribuan mahasiswa dan masyarakat umum yang memadati area kampus dalam suasana tertib dan penuh antusiasme.
<span;>Musik dan Semangat Kebersamaan
Sebagai puncak dari seluruh rangkaian perayaan Dies Natalis, Diwangkara Festival menghadirkan sejumlah musisi papan atas nasional seperti Hindia, Bernadya, dan Feast, yang berhasil menghidupkan panggung dan menyatukan ribuan penonton dalam satu semangat kebersamaan.
Dalam sambutannya, Prof. Lusmeilia menyampaikan apresiasi mendalam atas kerja keras mahasiswa yang telah menginisiasi dan menyukseskan acara ini.
“Kegiatan ini adalah bukti nyata kebersamaan dan kemampuan mahasiswa Universitas Lampung. Tidak hanya sekadar ilmu di bangku kuliah, tetapi juga kepemimpinan, tanggung jawab, dan kerja sama yang tercermin dalam penyelenggaraan acara sebesar ini,” ujar beliau.
<span;>Perayaan, Refleksi, dan Harapan Masa Depan
Lebih dari sekadar ajang hiburan, Diwangkara Festival mencerminkan semangat kreativitas mahasiswa Unila dalam menyatukan seni, budaya, dan nilai akademik dalam satu ruang inklusif yang membanggakan.
Dalam penutupannya, Prof. Lusmeilia juga mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban dan nama baik universitas selama kegiatan berlangsung.
Rangkaian perayaan Dies Natalis ke-60 ini diharapkan dapat memperkuat rasa kebersamaan di antara sivitas akademika, memperluas ruang ekspresi mahasiswa, serta menjadi momentum reflektif untuk terus membawa Unila menuju masa depan yang lebih gemilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *